Apakah Kaitan Antara Vertigo, Gangguan Pendengaran, dan Tinnitus?

Vertigo adalah sebuah keadaan pusing dan kehilangan keseimbangan. Anda mungkin pernah mengalaminya. Saat berada di kamar, Anda melihat semua benda berputar-putar kemudian menyebabkan Anda merasa mual dan mengalami muntah. Gangguan pendengaran bisa disebabkan karena berbagai hal dan pada umumnya berhubungan dengan vertigo. Tinnitus sendiri diartikan sebagai bunyi dering pada telinga. Gejala tinnitus biasanya terdengar seperti bunyi bergemuruh, bunyi ‘klik’, mendesis, serta sensasi bunyi mendengung. Bunyi-bunyi itu terdengar secara intensif dan bervariasi.
Secara umum, kita mengenal saraf tengkorak ke delapan (eight cranial nerve) yang juga dikenal dengan nama saraf Vestibulocochlear. Saraf ini berhubungan langsung dengan batang otak dan jalur saraf tengkuk bagian atas. Saraf tengkorak ke delapan (eight cranial nerve) bertugas khusus untuk mengontrol semua saraf keseimbangan. Karena nama vestibule sendiri berarti keseimbangan.
Saraf tengkorak ke delapan (eight cranial nerve) ini akan memungkinkan kita bisa mendengar dengan sempurna lewat indera pendengaran atau telinga. Karena makna cochlear sendiri adalah mendengar. Ketika gangguan sedang terjadi, kemungkinan disebabkan oleh kombinasi antara vertigo, gangguan pendengaran, dan gejala Tinnitus. Pada banyak kasus, sebenarnya penyebabnya adalah pada akar dari jalur saraf tengkuk bagian atas.

Subluksasi Induksi Antara Vertigo, Gangguan Pendengaran, dan Tinnitus
Saraf tengkorak ke delapan (eight cranial nerve) terhubung secara langsung dari batang otak dan memiliki hubungan dengan telinga, sehingga telinga juga memiliki sistem keseimbangan untuk bisa meneruskan bunyi yang masuk ke otak. Bagaimana jika Anda menderita gangguan pada kepala atau leher yang berhubungan dengan koneksi saraf tengkorak ke delapan (eight cranial nerve), apakah akan melemahkan kemampuan arus komunikasi dengan otak? Benarkah hal ini merupakan penyebab dari gejala vertigo? Bagaimana dengan gangguan pendengaran atau tinnitus? Apakah gangguan di atas leher ini akan mengacaukan peredaran darah di batang otak yang bertugas mengontrol saraf tengkorak ke delapan (eight cranial nerve)? Apakah mungkin jika gangguan ini menyebabkan saraf mengalami gejala kegagalan fungsi?
Pada beberapa kasus, hal yang secara umum menyebabkan subluksasi (dislokasi parsial sebuah sendi) merupakan sebuah gejala yang terjadi jika sebelumnya pernah ada luka atau kecelakaan pada kepala atau leher seperti : kepleset atau jatuh, kecelakaan motor, luka saat olahraga, dan lain-lain. Sebuah subluksasi terjadi ketika jaringan penyambung yang mengendalikan tengkuk bagian belakang bersama dengan dua tulang leher bagian atas mengalami luka.
Hampir semua kasus menyatakan bahwa gejala subluksasi terjadi selama 10 sampai dengan 15 tahun, bahkan ada yang lebih lama dari itu. Pada banyak kasus hal ini juga menyebabkan gangguan pada tulang leher belakang, sehingga ketika Anda mengalami gangguan ini maka dapat diperkirakan bahwa proses subluksasi sedang dimulai.
Gejala Pada Tengkuk Bagian Atas Untuk Perbaikan Proses Subluksasi
Metode Chiropractic bagian atas ini merupakan pendekatan yang sistematik, dan akan mengoreksi luka yang terdapat pada leher bagian atas. Pendekatan ini dicapai dengan prosedur yang dirancang untuk hal berikut.

  1. Menentukan luka pada sum-sum tulang belakang dengan alami dan menyeluruh
  2. Menentukan gangguan pada fungsi sistem kejut dengan menggunakan bentuk termografi
  3. Menentukan berapa lama luka pada sum-sum tulang belakang yang telah hadir dan prospek perbaikan

Penting juga untuk diingat bahwa vertigo, gangguan pendengaran, dan tinnitus adalah proses Subluksasi. Yang penting untuk diingat adalah hal ini dapat menyebabkan beberapa gangguan fungsi tubuh. Berikut adalah beberapa factor yang dapat memperparah kondisi Subluksasi, diantaranya ;

  1. Luka pada sum-sum tulang belakang yang alami dan menyeluruh.
  2. Lamanya kondisi luka.
  3. Anatomi pada area sum-sum tulang belakang di atas tengkuk.

Perlu diingat bahwa semua organ dan struktur tubuh yang tidak mendapatkan asupan aliran darah yang cukup, akan menyebabkan organ itu menjadi tidak berfungsi dengan baik. Selain itu, adanya sebuah trauma/ tekanan kecil atau iritasi pada batang otak dapat menyebabkan gangguan organ neurologi.
image : aarp

Leave a Reply

Your email address will not be published.